Friday, August 24, 2018

Televisi Indonesia yang Kian Membosankan dan Banal

Televisi Indonesia yang Kian Membosankan dan Banal


Spiritual Pollution - ilustrasi: maggi11.wordpress.com
Kiranya pertama saya beri gambaran sarkas kondisi televisi kita saat ini. 
RCTI. Swasta tua yang tidak bijak adanya. Acaranya berkutat pada sinetron cinta, harta, tahta dan perempuan. Alurnya sama saja, hanya pemerannya berbeda. Ada acara gosip dan berita sebagai selingan. Tapi seperti biasa, berita hanya refabrikasi dari TV/sosmed. Gosip pun, ah Anda sendiri tahu faedahnya.
SCTV. Pengekor tontonan drama semata. TV yang satu ini pun mirip TV tua di atas. Hanya sinetron jadi andalan, plus ragam FTV. Sayangnya kedua suguhan drama itu kini kian picik. Terlalu banyak logo barang jualan ditampilkan besar-besar. 
Tiada juga nilai estetiknya, apalagi ada teknik subliminal. Nol alias minim. Dan acara gosip/berita tak jauh TV sebelah.
Indosiar. TV hampir bangkrut yang kian semrawut. Cuma satu acara yang saya ingat dari TV ini, Patroli. Dan karena Indosiar TV yang merakyat, acara sepakbola dan dangdut juga sering ada. 
Pokoknya meriah dan bisa joget bersama, itu dangdut TV ini. Sepakbola pun menjadi pelipur fans ultras daerah. Judul acara drama sinetronnya pun lucu-lucu kabarnya. Karena judulnya mirip majalah Hidayah.
TPI/MNC TV. Yuuk mari 365 hari terus dangdutan. Konon, TV ini berjuluk Televisi Pendidikan Indonesia. Dulu saya masih ingat cara menghitung rumus Phytagoras. Kini, tak usah ambil pusing. Joget terus mang...! 
Acara kartun negri Jiran andalan TV ini pun cuma di re-run. Sampai-sampai anak bosan, filmnya itu-itu saja. Oya, sinetron anak ala ala fiksi naga-naga pun cukup bikin heran lho.
ANTV. Televisi asal India... Eh Indonesia. Eh...?? Semenjak pagi, TV ini diwarnai film besutan Bollywood. Siang dan malam pun drama Bollywood pun bermunculan. Dan masih ada lho show 'masak aer' yang cuma ketawa-ketiwi tidak jelas. 
Acara reality drama kini menjadi hits di TV ini. Dengan bumbu mistis dan 'reka adegan' plus dramatisasi, cukup menyedot iklan, eh perhatian.
Watching Television - ilustrasi: usa-banks.us
MetroTV. Ini dia TV berita penggagas hyper-partisan  Indonesia. Acara partai empunya TV berita ini kadang ada slot waktu khususon. Pidato sang empunya disiarkan live. Sering pula reportase sekitar satu partai masuk ke dalam berita. Dan karena pro-pemerintah, maka kumpulan beritanya ya soal ABS, kadang. Acara motivasi dan talk show cukup bagus. Walau kini kian jenuh.
TVOne. Sama-sama hyper-partisan, tapi TV ini memang beda kok. Dulu, saat sang pemilik masih getol di dunia politik. TV ini menjadi oposisi pemerintah. Isinya ya tentu saja tentang kegagalan, krisis, kemiskinan, dsb. Dan partai empunya TV ini dan dirinya adalah solusi untuk negara ini. 
Walau kini gerbong partai itu bergeser ke pemerintah. Tapi nuansa dan nafas beritanya masih kontra pemerintah masih ada (baca: masih dijaga).
KompasTV. Sempat dilabeli pro pemeritah, kini jadi independen (masih berusaha). Dengan profil perusahaan induk yang memang mogul media, TV ini cukup mengigit program beritanya. Walau kini berita yang ada masih sama saja dengan TV lain. Hanya (re)framing-nya yang berbeda dari TV ini. Namun bagi para oposan pemerintah, TV ini tetap tidak independen.
Trans7. Selain acara si Unyil, Jejak Petualang, dan MotoGP kok tidak ada yang menarik ya? Sejak berganti dari TV7 ke Trans7, lumayan hidup kreatifitas TV ini. Namun itu dulu. 
Acara andalannya kini hanya mencomot dan di-voice over YouTube. Acara reality show yang lebay pun menjadi andalan. Acara lama Opera-oper-an masih bertahan dengan konyolnya yang itu-itu saja.
TransTV. Sejak 'otak kreatifnya' pindah dan buat stasiun TV baru, TV ini jeblok. Acara gosipnya, alamak ga kuat cyin. Lebay dan penuh drama sekarang. Program berita dengan brand luar negri di TV ini tetap tidak menarik buat disimak. Karena toh isi beritanya tetap mirip TV berita sebelah. Apalagi kadang portal beritanya sudah memberitakan lebih dahulu.
NetTV. Televisi kaum urban, yang kini acaranya monoton. TV yang cukup muda namun berhasil menyedot banyak perhatian. Mungkin karena kerja keras tokoh kreatif yang pindah dari TV sebelah. 
Namun kini serasa hambar programnya. Acara lucu-lucuan masih membesut duo Andre-Sule. Lawakannya pun itu-itu saja. Apalagi dilabeli 'The Best Of.." yang cuma acara 'kliping' re-run. Walau selipan Korean Hallyu cukup berbeda.
Program Televisi - ilustrasi: dream.co.id
Dan TV lain seperti RTV, GTV, dan iNews yang menjadi 'cabang' TV induknya. Tidak ada corak khas dan unik dari TV-TV tersebut. Sedang TVRI dengan tag #KamiKembali, ya masih TVRI. Jadul dengan programnya dan kadang error sinyal siarannya. Walau perlu diakui, TV inilah yang Indonesia banget.
TV dengan basis free-to-air di Indonesia masih berkutat soal promosi produk dan jasa. Tim kreatif dibelakang sebuah program tak lain adalah tim manipulaitf. Mereka diminta membuat acara untuk memasarkan produk. Gebrakan program tanpa mengkhawatirkan rating/iklan saya rasa belum banyak hadir. Atau malah tidak ada?
KPI sebagai perwakilan negara lewat frekuensi siar belum terasa tajinya. Teguran kadang cuma teguran tanpa sanksi tegas. Program acara bisa tetap tayang dengan judul berbeda saja. Apalagi mengatur polusi fikiran berupa iklan yang kian hari kian pintar saja. 
Dari acara berita sampai drama, semua terpampang jelas produk promosinya. Bahkan iklan rokok dengan kemasan berbeda pun tidak disadari oleh otoritas KPI.
Banalitas daur siar tahunan TV kita masih drama-klenik-gosip artis. Berpindah ke TV kabel berbayar pun bukan alternatif murah. Mengganti channel program TV pun bukan solusi. Apalagi kini rata-rata TV disisipi bias politik dan jargon promosi produk. TV kita kini masih tayangan hiburan yang tiada memberi banyak pembentukan karakter bangsa.  
Salam,
Solo, 11 Agustus 2018
11:10 am
(reblog dari Kompsiana disini)

Wednesday, October 12, 2016

Frasa "Itu Karena" yang Selalu Dihilangkan di Iklan

Frasa "Itu Karena" yang Selalu Dihilangkan di Iklan

Thinker


Iklan televisi tidak menggunakan logika kausatif. Yang ditekankan adalah akibat, bukan sebab. Contohnya sederhana, hanya kita saja mungkin yang tidak ngeh selama ini. Contoh:

Iklan susu formula yang menggambarkan anaknya bernyanyi. Lalu orang-orang disekitarnya senang dan bertepuk tangan.
Akibat: si anak berani bernyanyi di hadapan umum
Sebab: nil 

Lalu tanpa dinyana dan dikira, ditayangkanlah merek susu formula. Dibahaslah pentingnya nutrisi bagi si kecil. Alih-alih menggambarkan sebab si anak berani bernyanyi. Yang ditekankan seolah-olah susu formulanya yang membuat demikian. Berani bernyanyi tidak hanya dikontribusi nutrisi saya kira. Peran ortu dan oran sekitar pada ranah psikologis dan afektif anak juga menjadi pendorong. 

Jadi, frase 'itu karena' tidak pernah disebutkan dalam iklan. Iklan kosmetik pun demikian. Si A itu cantik bukan karena A itu cantik. Tapi karena produk B, yang membuatnya demikian. Juga dengan iklan provider atau TV kabel pun sama tekniknya. Kalau mau komunikasi lancar bukan karena jaringan bagus. Itu karena ada biaya lagi yang harus ditambah. Iklannya wow, tapi kadang faktanya low.

Adapun dalih 'tapi karena' hilang dengan substitusi 'syarat dan ketentuan berlaku'. Biasanya di iklan cetak banyak dicetak dengan tanda asterik (*). Tanda ini kadang begitu kecil dibawah kata gratis/diskon/sale/promo, dll.

Kadang memang tanda (*) dilengkapi keterangan cukup panjang dan bertele-tele. Yang memang membuat orang yang membacanya malas. Di iklan kosmetik/perawatan tubuh, biasanya ada tulisan kecil di bawah layar. Yang bahkan TV 64 inchi tidak bisa membacanya. Selain samar, keterangan ini mungkin muncul seperseratus detik. 

Lalu apa yang menjadi fokus iklan selain produknya adalah feeling. Manusia adalah mahluk virtual. Akan mudah takjub dengan apa yang dilihat. Lalu dirasakan di dalam hati. Saat hati senang, keputusan yang cenderung impulsif dibuat. Keputusan ini biasanya didorong kegembiraan atau sensasi yang dilihat dan dirasa. Tidak heran visualitas iklan akan selalu menarik perhatian. Dalam durasi 15-30 detik kita dibuat terpesona, sedih, tertawa, terinspirasi, dll. Ada perasaan yang distimulasi. Bersamaan dengan ini mereka menyusupi pikir kita 'ini lho produk kami yang bisa bikin pesona, tawa, inspirasi, dll'. 

Tanpa sebab yang harus dilihat dan ditelaah; kenapa seorang model bisa cantik, anak bisa sehat, badan pria itu bisa atletis, orang-orang terlihat nikmati makan, dll. Iklan tidak perlu menunjukkan ini. Jika ditunjukkan bisa saja iklan malah jadi film dokumenter. Menjual produk dengan efektif dengan menyentuh sisi afektif adalah kunci. Sehingga keputusan atas dasar sensasi bisa dibuat.

Itu karena menjadi keputusan yang harus kita buat. Logika yang harus benar-benar disadur sebelum kita pergi tidur. Benar tidak anak saya berani bernyanyi karena susu formula? Kenapa Chelsea Islan yang sudah cantik harus didandani untuk iklan produk kosmetik? Apa benar para model pria ber-sixpack itu minum susu biar seperti itu? Apa benar ada jaringan 4G di daerah kaki gunung seperti desa saya?
Artikel lain dari saya:
  1. Tiga Elemen Pengecoh pada Iklan Produk Kosmetik
  2. Iklan-iklan Rokok yang Tayang Semaunya (Kembali)
  3. Menelanjangi Iklan LA Light Cari yang Kerja
Salam,

Wollongong, 12 Oktober 2016

03:32 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)

Monday, March 28, 2016

Memahami Sisi Lain Kurt Cobain dalam Montage of Heck

Memahami Sisi Lain Kurt Cobain dalam Montage of Heck

(Kurt Cobain usia 2 tahun dalam Montage of Heck - foto: theguardian.com)
Kurt Cobain usia 2 tahun dalam Montage of Heck foto: theguradian.com
At one point he buys a Ken doll for his girlfriend, and inscribes the words "Kurdt Kobain" above it; in another scene he wears a dress and mimes along while Love reads out a letter from a love-struck fan. 

Tewas bunuh diri pada usias 27 karena depresi dan ketergantungan obat, stigma gelap dan muram melekat pada diri Kurt Cobain. Vokalis utama band grunge tahun 90-an, ini membawa suara muram dalam musiknya. Dengan lirik yang cenderung depresif, penuh kesedihan dan realitas kehidupan remaja yang muram banyak mencap Kurt sebagai pribadi yang 'buruk'. Banyak juga yang mencap Kurt dengan sang istri adalah keluarga durja, karena berisi ayah pecandu dan ibu yang glamor hidupnya.
1425921742479052235
Kurt Cobain, Courtney Love dan Frances di MTV Award 1993 - foto: billboard.com
Namun siapa sangka, ada sisi lucu dan menyedihkan pada diri Kurt yang orang tidak tahu. Semua digambarkan dengan apik oleh sutradara Brett Morgen dalam film dokumenter Montage of Heck. Sebuah film dokumentar yang benar-benar berisi dan mengungkap Kurt apa adanya. Dengan mengantongi, 200 jam rekaman audio, 4.000 lembar diary, dan video rekaman pribadi Kurt dan keluarga, Montage of Heck mengangkat sisi humanis dan ayah seorang Kurt. Montage of Heck sendiri berasal dari nama sebuah rekaman pribadi Kurt tahun 1998 yang berisi beragam warna musik sepanjang 36 menit.

"For me, Montage of Heck is like a journey through Kurt's mind," says Morgen. "It's funny, kitschy, romantic, angry, full of contradictory juxtapositions. If you describe the tape, you are, to a certain extent, describing Kurt."

Film dokumenter ini pun telah mendapat pengakuan dalam ajang Sundance awal Januari 2015 lalu. Film yang juga membuat majalah Rolling Stone menggambarkan film ini sebagai 'You're left completely emotionally spent' Sebuah dokumenter karya Morgen, dengan produser eksekutifnya Frances Bean putri Kurt Cobain, seperti telah membuka tabir gelap Kurt yang selama ini melekat. Film yang sebenarnya cukup lama dalam proses produksinya. Pada awalnya, istri Kurt Courtney Love memintanya membuat film tentang Kurt pada tahun 2007.

(ki-ka: Frances Bean, Courtney Love dan Brett Morgen di Sundance - foto: Tomasso Bodi gettyimage.com)
ki-ka: Frances Bean, Courtney Love dan Brett Morgen di Sundance - foto: Tomasso Bodi gettyimage.com
Baru pada akhir tahun 2014 film ini akhirnya selesai. Bahkan, Frances sendiri tidak meminta apapun diedit dengan karya Morgen. Walau sudah ada beberapa film dokumenter tentang Kurt Cobain, namun hanya Montage of Heck yang memiliki rekaman asli awal karir musik Nirvana. Mulai dari awal manggung kecil-kecilan Nirvana sampai pagelaran konser dimana Kurt masuk dengan dibantu kursi roda, Montage of Heck benar-benar baru. Belum lagi foto, rekaman video dan audio, serta diary Kurt sendiri yang selama belum diketahui publik. Bahkan, sang putri Kurt sendiri, Frances, belum tahu kalau ada 'warisan' ayahnya yang sangat berharga itu.

Dimulai dengan gambaran masa kecil Kurt yang menjadi 'korban' perceraian kedua orangtuanya. Masa kecilnya, ia didiagnosa menderita ADHD. Perilakunya yang selalu berteriak-teriak di hadapan tembok, membuatnya harus diterapi dengan Ritalin. Beberapa rekaman audio pun berisi suara Kurt yang menceritakan masa sulitnya dipermalukan di sekolah. Juga saat ia remaja, dimana ia menceritakan dirinya yang sulit sekali beradaptasi dengan bermacam pribadi yang merawatnya waktu itu. Yang paling membuat hati tersentuh adalah saat perayaan potong rambut pertama anaknya, Frances.

Saat semua anggota keluarga merayakan masa suka cita ini, Kurt hanya diam kosong terpaku tidak tahu apa yang terjadi. Kenyataan pahit yang harus Kurt tanggung sebagai seorang pecandu. Namun, yang menjadikan Montage of Heck spesial adalah sisi lucu dan humanis Kurt sendiri. Dimana saat kecil, berdandan seperti Batman Kurt bermain dengan gembira di salah satu rekaman video keluarganya. Juga bersepeda sendiri di jalan di depan rumahnya.

Atau saat ia berusia 6 tahun, bermain serupa anak sebayanya dengan kakak perempuannya. Bermain seperti seorang bapak, meminta kakaknya pura-pura menyetrika baju. Juga kemesraan dan kelucuan Kurt dengan Courtney yang juga terekam dengan baik dari sejak masa ia berasama Kurt dahulu. Sebagai pasangan muda, canda dan tawa mereka pun sempat diabadikan Courtney. Bercanda dan mengobrol tentang surat fans Nirvana berdua dengan Courtney. Sambil diselipkan kelucuan dan celoteh bak reality show, gambaran video ini benar-benar menyorot sisi lain Kurt. Belum lagi, beberapa footage yang menggambarkan kedekatan Kurt dan Frances, putrinya saat kecil. Momen yang menggambarkan diri Kurt sebagai ayah dan penyanyang seutuhnya.

Now 22, she (Frances) was just short of two years old when her father died, so she has no memories of him. "You gave me a couple of hours with my dad I never had," she told Morgen after seeing the film.

Referensi: theguardian.com

Salam,

Solo, 28 Maret 2016

10:00 am
(Reblog dari Kompasiana disini)

Friday, March 11, 2016

Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak

Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak

(ilustrasi: associationnow.com)
ilustrasi: associationnow.com

Anak kita yang lahir di era TV flat screen, tablet, smartphone dan laptop tidak bisa dipungkiri akan mengenalnya cepat atau lambat. Ada anak yang mengenalnya, atau dikenalkan pada usia yang dini. Ada pula beberapa orangtua yang begitu ketat, maka screen time pun dibatasi. Screen time (ST), atau waktu menonton dan bermain gadget akan menjadi 'dilema' jika dihadapkan pada play time (PT) yang seharusnya dilakukan anak-anak. Bermain, baik di dalam ruang maupun di luar, adalah cara anak belajar. Banyak orangtua pun, kini memilih screen time lebih lama agar anak mereka juga belajar. 

Lalu, bagaimana mengatur ST dan PT agar anak tumbuh dengan 'wajar diusianya'. Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple pernah diwawancarai jurnalis menyoal anak dan teknologi yang ia ciptakan. Sang jurnalis menyangka anak-anak Steve Jobs juga senang akan karya anaknya. Sedang Jobs dengan datar menjawab "Mereka tidak pernah menggunakannya.

Kami membatasi penggunaan teknologi untuk anak di rumah kami." Hal ini pun terjadi dengan Jonathan Ive, desainer dari iPad. Ia menerapkan batasan yang ketat pada teknologi untuk anak kembarnya yang berusia 10 tahun. Sedang bagi Pierre Laurent, mantan manajer marketing Intel dan Microsoft, dan saat ini developer startup percaya ST bagi anak dilakukan setelah anak berusia 12 tahun. Dan ini yang diterapkan pada anak-anaknya. Karena teknologi akan menyita minat dan waktu anak, memberi anak gadget di usia dini mendatangkan sedikit manfaat. Dan kini, setelah anaknya berusia 12 tahun, ia juga mampu memahami gadget yang ada dengan baik. Sedang Johnny Taylor, developer ari game World of Warrior memilih batasan yang lebih longgar. 

Karena ia tahu teknologi adalah bagian dari keluarga mereka, sebagai orangtua aktifitas lain pun harus diperhatikan. Dengan iPad, tablet Nexus dimainkan anak-anak mereka, password untuk download disimpan oleh Johnny sendiri. Serupa dengan Anne Wojcicki, istri dari Sergey Brin, memberi gadget pada anak juga harus dengan aturan. Anaknya memiliki iPod touch agar anaknya bisa mengirim pesan saat ia pulang dari sekolah. Game pun haruslah edukasional, seperti BrainPop menurut Anne.

Orangtua, Konsistenlah Dengan Aturan ST dan PT Untuk Anak

Saya sendiri menerapkan aturan yang cukup longgar untuk ST anak saya. Ia diperbolehkan untuk menonton televisi, namun diselingi oleh bermain. Menontonnya pun hanya film-film kartun siang dan sore hari. Waktunya pun tidak dibatasi. Namun putri saya tahu kapan ia harus berhenti menonton. Sedang pagi dan siang ia banyak bermain dan belajar. Bermain baik bersama temannya di rumah atau di luar rumah, atau bersama istri saya. Atau bermain gadget pun hanya malam hari ketika saya di rumah. Baik dengan HP saya atau istri saya. Itupun tidak lebih dari 1 jam. Karena ia kadang bosan sendiri dengan game yang ia mainkan.

Yang kadang dilupakan orangtua adalah, gadget bukan alat pengalih perhatian anak. Kadang saya perhatikan, gadget adalah pengalih perhatian anak saat orangtua sibuk mengobrol di meja makan. Gadget diberikan agar anak duduk diam di meja restoran. Atau saat mereka bersedih, smartphone dengan game lucu pun menjadi pelipur tangis anak. Atau memberi anak tontonan Disney Channel agar anak tidak main diluar rumah. Sedang orangtua sibuk sendiri saat anak menontonnya. Seolah gadget dan televisi adalah 'penyelamat' orangtua. Lalu di mana peran orangtua? 

Konsistensilah kuncinya. Orangtua pun harus membatasi dirinya pada eksposure dari ST. Pilih waktu menonton TV, bermain gadget atau bekerja di depan laptop saat anak istirahat atau tidur. Saat orangtua dan anak berkumpul, lakukan PT dengan optimal. Melukis, mewarnai atau kegiatan outdoor ada baiknya lebih banyak dilakukan.

Sedang ST sendiri pun, anak baiknya didampingi orangtua mereka. Atur waktunya dan berikan pemahaman tentang apa yang ia mainkan di gadget. Juga, baca dengan teliti game yang hendak diunduh untuk anak kita. Saya sendiri, untuk berinteraksi dengan gadget putri saya hanya diperbolehkan selepas Maghrib. Itupun tidak kami tawarkan ia mau main atau tidak. Jika kami sibuk bermain, maka gadget tidak kami berikan. Atau saat kami pergi, bermain gadget di kendaraan pun tidak kami lakukan. Kami lebih pilih putri kami melihat sekitar dan belajar semua yang ada di jalan raya. Baik kendaraan atau aturan-aturan sederhana di jalan. ST untuk putri kami pun selalu kami dampingi.

Kami menyadari, ST pun adalah bagian dari anak belajar. Karena menjauhkan anak dari teknologi pun sulit. Karena teman-temanya pun diluar secara langsung atau tidak langsung, mengekspos anak saya dengan teknologi. Jadi, ST pun harus bisa membawa manfaat. Semua agar anak tahu mana yang layak atau tidak layak baginya. Karena anak yang 'polos' atas teknologi mugkin jatuhnya akan overuse pada produk teknologi. Menghindarkan anak dari teknologi pun, jalan yang akan sulit ditempuh orangtua di abad 21 saat ini.

Artikel terkait dari sayaKenalkan Anak Pada Gadget, Why Not?

Referensitheguardian.com

Salam,

Solo, 10 Maret 2016

09:30 am
(Reblog dari Kompasiana disini)

Monday, March 7, 2016

Piala Oscar 2016: Supremasi Kulit Putih, Penantian DiCaprio dan Kita

Piala Oscar 2016: Supremasi Kulit Putih, Penantian DiCaprio dan Kita

#OscarSoWhite - ilustrasi: theoscarbuzz.blogspot.com
Jauh sebelum Oscar 2016 dihelat, pada saat nominasi diumumkan isu rasisme berhembus. Banyak artis Hollywood melihat ketimpangan jumlah nominee yag berasal dari mereka yang colored-skin. Dominasi ras Kaukasus menjadi kentara. Banyak artis yang mencoba memboikot Oscar. Artis Hollywood bereaksi. Digawangi Jada Pinkett Smith (istri Will Smith) dan seorang aktifis kemanusiaan Al-Sharpton, pemboikotan Oscar dibuat. Beberapa nominee Oscar pun sadar hal ini. Brie Larson (The Room) dan Mark Ruffalo (Spotlight) pun turut serta dalam pemboikotan. Walau kedua orang ini nyata hadir saat perhelatan Oscar.

Kontroversi rasisme Oscar pun berlanjut saat acara tersebut berlangsung. Setelah jagad netizen memberikan tagar #OscarSoWhite, pada hari-H Chris Rock pun secara frontal (tapi nyleneh) menyinggung hal ini. Sebagai host Oscar pada malam itu, Chris Rock langsung menohok. Ia membuka dengan berucap "I'm here at the Academy Awards. Otherwise known as White People Choice Awards." Bukan cuma pembukaan yang cetar. Chris Rock pun menambahkan "You're damn right Hollywood's racist, but not the racist that you've grown accustomed to. Hollywood is sorority racist. It's like, 'We like you, Rhonda, but you're not a Kappa.' Banyak artis bertepuk tangan. Bagi mereka yang menjadi 'korban' dalam ucapan Chris Rock mungkin mendukung. Tapi entah bagi mereka yang mungkin 'rasis'.

Gurita Rasisme Hollywood yang Telah Menjadi Kraken

Apa yang terjadi? Mengapa jurang rasial sangat besar di piala Oscar? 

Dari sebuah studi yang dilakukan Los Angeles Times di tahun 2012 badan Oscar sendiri, The Academy of Motion Pictures, terdiri dari 94% orang kulit putih dan 77% pria. Walau secara psikologis pilihan atas kulit putih oleh badan ini masih tentatif, namun nominee dari Oscar tiap tahun terulang. Dari 20 nominasi Oscar 2016, 20 diantaranya ditujukan untuk aktor dan aktri kulit putih. Walau nominasi Golden Globe untuk Afro-American sebenarnya tidak kalah menarik. Contohnya Idris Elba (Beasts of No Nation) dan Will Smith (Concussion), namun mereka tidak sama sekali dinominasikan.

Permasalahan pelik rasial di Oscar sebenarnya lebih holistik. Menurut Whoopi Goldberg, rasisme di Hollywood terjadi dalam sistem perfilmannya sendiri. Pada wawancara Entertainment Tonight, Goldberg mengajukan pertanyaan "How many black films are being produced each year? How are they being distributed?" Menyadur pertanyaan Goldberg, Viola Davis mengutarakan hal yang serupa. Menurutnya, Oscar bukan menjadi masalah peliknya. Oscar hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar. Dan sekarang adalah kesempatan untuk membuat pernyataan. Sebuah perubahan sosial tambahnya.

Leonard DiCaprio Oscar Meme - ilustrasi: randomoverload.org

Namun nampaknya isu ini tertutupi euforia kemenangan Leonardo DiCaprio.

Setelah menunggu 2 dasawarsa lebih, DiCaprio (The Revenant) akhirnya membopong Oscar pertamanya. Dinominasikan sebagai Best Actors, ternyata impiannya menjadi kenyataan. Dunia pun bergempita. Meme yang dulu mengolok-olok DiCaprio akhirnya mencapai ejakulasinya. DiCaprio akhirnya mendapat 1 piala Oscar. Filmnya yang dibintanginnya pun menyabet gelar bergengsi untuk The Best Director. Nampaknya DiCaprio benar-benar bisa berbangga hati.

Dunia netizen pun gempar. Tagar #LeonardoDiCaprio plus #Oscar pun menjadi trending. Meme DiCaprio memegang Oscar pun diimbuhi beragam caption. Mulai dari ucapan selamat sampai (kembali) nyinyir atas terpilihnya DiCaprio sebagai aktor, ditulis dalam meme. Media dalam dan luar negri pun memberitakan kemenangan DiCaprio dengan 'lebay'. Tak lupa acara gosip di negri kita pun turut rembug kelebayannya memberitakan hal ini. Dan jarang yang benar-benar mengkritisi isu rasisme dibalik Oscar itu sendiri.

Rasisme Oscar dan Kita Orang Indonesia

Sepertinya karena orang Indonesia sudah biasa melihat film bule, yang menang kaum Kaukasus adalah wajar. Jika yang menang orang Afro-American, ya cukup selamat saja. Tidak begitu ngeh kontroversi dibaliknya. Pun, banyak yang merasa rasisme di Amerika Serikat tidak berpengaruh banyak ke Indonesia. Tapi tahukah kita, bahwa superioritas kaum Kaukasus dalam film menjadi racun dalam kepala orang Indonesia. Karena film Hollywood begitu wah, hebat, high-tech dengan aktor-aktris 'sempurna', bawah sadar kita begitu teracuni superioritas ras Kaukasus.

Buktinya, lihat saja betapa senang orang kita berfoto dengan 'bule'. Kalau sudah berambut pirang, kulit pucat, dan berbahasa asing, pokoknya minta untuk berfoto bareng. Betapa bangga dan pongahnya orang kita seusai berfoto dengan si bule. Disebarlah di sosial media mereka. Walau entah siapa bule tadi. Artiskah? Atau wisatawan biasa? Kalau sudah berfoto dengan bule ada 'kebanggaan' tersendiri. Beda rasanya jika berfoto dengan orang asing yang colored skin.

Inilah superioritas yang begitu subliminal merasuk dalam fikiran kita. USA sebagai negara adikuasa tidak sekadar omong kosong. Dari semua segi, USA memanfaatkan citranya. Dengan film pun demikian. Dengan film yang sulit disaingi negri sendiri, Hollywood menjadi silent weapon khusus. Terutama negara ketiga seperti kita. Supremasi ras tertentu yang dibalut apik dengan hiburan dan bisnis nampaknya tidak terasa. Apalagi isu rasisme didalamnya.

Referensicnn.com | time.com | theguardian.com

Salam,

Solo, 07 Maret 2016

12:54 am
(Reblog dari Kompasiana disini)

Sunday, February 21, 2016

Oh Tidak! Anakku Hafal Mars Perindo

Oh Tidak! Anakku Hafal Mars Perindo

Mars Perindo - ilustrasi: twitter.com

Putri saya yang berusia 3 tahun, kini hafal Mars Perindo. Lucu namun juga ngenes. Lucu karena anak kecil ternyata memang peniru ulung. Apa yang mereka dengar dan lihat, mudah saja ditirukan kembali. Ngenes karena anak usia 3 tahun belum tahu Perindo itu apa. Namun ternyata Perindo dengan marsnya mampu ‘meracuni’ fikiran. Dengan iklan yang hampir diselipkan di jam anak-anak menonton kartun di GlobalTV, kampanye (baca: propaganda) mereka salah sasaran.

Jangan-jangan anak Anda juga sudah hafal? Saya akui mars ini memang mudah diingat. Dengan gaya lagu mars yang serempak, padat dan bernada  ringkas, mars Perindo jadi hiburan tersendiri di sela-sela iklan. Saya sebagai orang dewasa pun masih merasakan earworm (terngiang) mars ini walau tidak mendengarkan. Apalagi anak-anak kecil. Mungkin saat bernyanyi, mereka bisa mengundang tawa. Lucu mendengarkan mereka, karena tidak sesuai liriknya. Karena keterbatasan Bahasa.

Lalu kenapa saya harus merasa ngenes? Toh, memprotes iklan mars Perindo pun percuma. Stasiun televisinya saja milik pentolan Perindo. Atau mengadu ke KPI? Sedang sinetron kekerasan serupa geng motor atau aksi BMX berbahaya saja cuek. Apalagi menyoal iklan mars ini. Mereka anggap saja angin lalu. Daripada percuma, ada hal yang coba saya telaah dari ‘racun’ mars Perindo untuk anak-anak ini.
Oh No - ilustrasi: web.stanford.edu

Kenapa lagu wajib nasional tidak bisa diiklankan. Ya, lagu seperti Halo-Halo Bandung dengan irama rancak dan menggugah semangat bisa saja dijadikan iklan. Labeli saja dengan iklan layanan masyarakat. Tempatkan di jam-jam anak bisa menonton televisi.  Saya yakin, rasa mencintai tanah air dengan lagu wajib bisa dipupuk dari kecil.
Yang saya tahu ada lagu Indonesia Raya yang tayang. Itupun waktunya subuh hari di beberapa stasiun televisi. Ada juga tayang tengah malam. Lalu siapa yang kira-kira bertanggung jawab atas tayangan iklan lagu wajib nasional? Kiranya tepat Menko Puan Maharani meng-handle hal ini. Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sangat cocok. Manusia Indonesia dibangun nasionalismenya dari kecil dengan mars atau lagu wajib nasional. Tentu dengan cara menyenangkan, lewat tayangan iklan layanan masyarakat.

Sudah saatnya televisi swasta di Indonesia membentuk karakter penontonnya. Namun bukan menjadi media propaganda pemerintah. Namun membangun manusia Indonesia. Memberikan rasa berbangsa melalui televisi. Saya masih ingat benar acara-acara di TVRI yang memang Indonesia banget saat saya kecil. Walau ada acara impor, namun tetap ada Indonesia disana.

Mengeruk keuntungan sebanyaknya dari iklan dan sponsor memang menjadi fokus TV swasta. Ada baiknya pemerintah turut member warna. Melalui kementrian terkait, tayangan yang membangun karakter Indonesia juga perlu dibuat. Tidak sekadar acara jalan-jalan dan kuliner saja. Tapi menayangkan mars atau lagu wajib nasional sebagai iklan layanan masyarakat, saya kira bisa memberi dampak signifikan.

Sangat disayangkan jika anak-anak malah hafal mars Perindo. Lalu orangtua merasa bangga dan minta mereka terus menyanyikannya. Walau tanpa maksud menjadi simpatisan partai ini. Namun terlihat betapa dampak mars seperti ini sangat signifikan. Orangtuanya memang tidak memilih Perindo. Tapi ingat dan tahu Perindo ada. Tinggal penjajakan partai ini saja nantinya menguatkan keinginan orangtua anak untuk memilih Perindo.
Bukankah lebih baik anak hafal Halo-Halo Bandung daripada mars Perindo?

Salam,

Solo, 21 Februari 2016

05:48 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)