Monday, March 28, 2016

Memahami Sisi Lain Kurt Cobain dalam Montage of Heck

Memahami Sisi Lain Kurt Cobain dalam Montage of Heck

(Kurt Cobain usia 2 tahun dalam Montage of Heck - foto: theguardian.com)
Kurt Cobain usia 2 tahun dalam Montage of Heck foto: theguradian.com
At one point he buys a Ken doll for his girlfriend, and inscribes the words "Kurdt Kobain" above it; in another scene he wears a dress and mimes along while Love reads out a letter from a love-struck fan. 

Tewas bunuh diri pada usias 27 karena depresi dan ketergantungan obat, stigma gelap dan muram melekat pada diri Kurt Cobain. Vokalis utama band grunge tahun 90-an, ini membawa suara muram dalam musiknya. Dengan lirik yang cenderung depresif, penuh kesedihan dan realitas kehidupan remaja yang muram banyak mencap Kurt sebagai pribadi yang 'buruk'. Banyak juga yang mencap Kurt dengan sang istri adalah keluarga durja, karena berisi ayah pecandu dan ibu yang glamor hidupnya.
1425921742479052235
Kurt Cobain, Courtney Love dan Frances di MTV Award 1993 - foto: billboard.com
Namun siapa sangka, ada sisi lucu dan menyedihkan pada diri Kurt yang orang tidak tahu. Semua digambarkan dengan apik oleh sutradara Brett Morgen dalam film dokumenter Montage of Heck. Sebuah film dokumentar yang benar-benar berisi dan mengungkap Kurt apa adanya. Dengan mengantongi, 200 jam rekaman audio, 4.000 lembar diary, dan video rekaman pribadi Kurt dan keluarga, Montage of Heck mengangkat sisi humanis dan ayah seorang Kurt. Montage of Heck sendiri berasal dari nama sebuah rekaman pribadi Kurt tahun 1998 yang berisi beragam warna musik sepanjang 36 menit.

"For me, Montage of Heck is like a journey through Kurt's mind," says Morgen. "It's funny, kitschy, romantic, angry, full of contradictory juxtapositions. If you describe the tape, you are, to a certain extent, describing Kurt."

Film dokumenter ini pun telah mendapat pengakuan dalam ajang Sundance awal Januari 2015 lalu. Film yang juga membuat majalah Rolling Stone menggambarkan film ini sebagai 'You're left completely emotionally spent' Sebuah dokumenter karya Morgen, dengan produser eksekutifnya Frances Bean putri Kurt Cobain, seperti telah membuka tabir gelap Kurt yang selama ini melekat. Film yang sebenarnya cukup lama dalam proses produksinya. Pada awalnya, istri Kurt Courtney Love memintanya membuat film tentang Kurt pada tahun 2007.

(ki-ka: Frances Bean, Courtney Love dan Brett Morgen di Sundance - foto: Tomasso Bodi gettyimage.com)
ki-ka: Frances Bean, Courtney Love dan Brett Morgen di Sundance - foto: Tomasso Bodi gettyimage.com
Baru pada akhir tahun 2014 film ini akhirnya selesai. Bahkan, Frances sendiri tidak meminta apapun diedit dengan karya Morgen. Walau sudah ada beberapa film dokumenter tentang Kurt Cobain, namun hanya Montage of Heck yang memiliki rekaman asli awal karir musik Nirvana. Mulai dari awal manggung kecil-kecilan Nirvana sampai pagelaran konser dimana Kurt masuk dengan dibantu kursi roda, Montage of Heck benar-benar baru. Belum lagi foto, rekaman video dan audio, serta diary Kurt sendiri yang selama belum diketahui publik. Bahkan, sang putri Kurt sendiri, Frances, belum tahu kalau ada 'warisan' ayahnya yang sangat berharga itu.

Dimulai dengan gambaran masa kecil Kurt yang menjadi 'korban' perceraian kedua orangtuanya. Masa kecilnya, ia didiagnosa menderita ADHD. Perilakunya yang selalu berteriak-teriak di hadapan tembok, membuatnya harus diterapi dengan Ritalin. Beberapa rekaman audio pun berisi suara Kurt yang menceritakan masa sulitnya dipermalukan di sekolah. Juga saat ia remaja, dimana ia menceritakan dirinya yang sulit sekali beradaptasi dengan bermacam pribadi yang merawatnya waktu itu. Yang paling membuat hati tersentuh adalah saat perayaan potong rambut pertama anaknya, Frances.

Saat semua anggota keluarga merayakan masa suka cita ini, Kurt hanya diam kosong terpaku tidak tahu apa yang terjadi. Kenyataan pahit yang harus Kurt tanggung sebagai seorang pecandu. Namun, yang menjadikan Montage of Heck spesial adalah sisi lucu dan humanis Kurt sendiri. Dimana saat kecil, berdandan seperti Batman Kurt bermain dengan gembira di salah satu rekaman video keluarganya. Juga bersepeda sendiri di jalan di depan rumahnya.

Atau saat ia berusia 6 tahun, bermain serupa anak sebayanya dengan kakak perempuannya. Bermain seperti seorang bapak, meminta kakaknya pura-pura menyetrika baju. Juga kemesraan dan kelucuan Kurt dengan Courtney yang juga terekam dengan baik dari sejak masa ia berasama Kurt dahulu. Sebagai pasangan muda, canda dan tawa mereka pun sempat diabadikan Courtney. Bercanda dan mengobrol tentang surat fans Nirvana berdua dengan Courtney. Sambil diselipkan kelucuan dan celoteh bak reality show, gambaran video ini benar-benar menyorot sisi lain Kurt. Belum lagi, beberapa footage yang menggambarkan kedekatan Kurt dan Frances, putrinya saat kecil. Momen yang menggambarkan diri Kurt sebagai ayah dan penyanyang seutuhnya.

Now 22, she (Frances) was just short of two years old when her father died, so she has no memories of him. "You gave me a couple of hours with my dad I never had," she told Morgen after seeing the film.

Referensi: theguardian.com

Salam,

Solo, 28 Maret 2016

10:00 am
(Reblog dari Kompasiana disini)

Thursday, March 10, 2016

Film Biopic Steve Jobs Gagal Eksis, Ada Apa?

Film Biopic Steve Jobs Gagal Eksis, Ada Apa?

Steve Jobs movie poster - foto Michael Fassbender Twitter
Nampaknya nama besar Steve Jobs sebagai mantan CEO Apple, belum bisa mengalahkan si 'introvert' Mark Zuckerberg. Dua titan dalam teknologi ini sudah memiliki nama besar. Namun ternyata, jika dibuat ke dalam biopic atau film biografi, Jobs tidak setenar Mark, sejauh ini. Apple dengan inovasi 'out-of-the-box' ternyata tidak mendorong orang penasaran dengan pendirinya, Steve Jobs. Sejak dirilis minggu kemarin biopic Steve Jobs hanya mampu bertengger di posisi 7. Dengan profit yang juga kurang memuaskan, hanya sekitar USD 7.3 juta. Walau biaya pembuatan film ini ditaksir sekitar USD 30 juta.

Dengan dibesut tim yang sama dengan biopic Zuckerberg, ternyata biopic Steve Jobs berada dibawah pamor The Social Network. Pada tahun 2010, The Social Network mampu meraup USD 22.4 juta pada pekan pertama rilis. Aaron Sorkin sebagai screenwriter yang untuk biopic Steve Jobs dan juga The Social Network nampaknya gagal mengundang perhatian banyak orang. Detail cerita dari semua rekan mendiang Steve Jobs nampaknya belum bisa membuat banyak penonton penasaran. Apa yang terjadi? 

Pertama, bintang utama biopic Steve Jobs yang kurang 'nggigit'. Dengan bintang utama Michael Fassbender, aktor nominasi Oscar ini belum mampu menarik jutaan mata untuk menyaksikan film barunya. Ditambah Kate Winslet sebagai co-aktor juga belum bisa mengalihkan pandangan penonton. Sebelumnya dikabarkan, film Steve Jobs akan dibintangi antara lain Leonardo DiCaprio dan Christian Bale, namun gagal. Gagal bukan karena Sony Pictures tidak mau mengontrak aktor class-A rating tadi. Namun atas permintaan istri Jobs, Laurene Powell-Jobs aktor tadi 'dilarang' membintangi film ini. Sony Pictures menyangka janda Steve Jobs cemburu karena tidak dilibatkan dan disorot dalam film biopic ini. Kabarnya pula, Laurene tidak setuju dengan proyek film ini. Dan ia sudah melobi orang-orang besar di Hollywood untuk menggagalkan film Steve Jobs ini.
Jobs movie poster 2013 - ilustrasi: marketingland.com
Kedua, orang sudah terlalu banyak tahu soal Steve Jobs. Bukan hanya dari buku biografi yang ada di toko buku, namun juga dari film biopic yang 'serupa'. Film biopic pertama tentang Steve Jobs 'Jobs' yang dibintangi Ashton Kutcher dirilis 2013 lalu. Film 'Jobs' yang disutradarai Joshua Michael Stem ini juga bernasib buruk di awal pekan rilisnya. Dengan bertengger di posisi 7 dan pendapatan kotor USD 30 juta, Jobs di tahun tidak terlalu sukses. 

Ditambah film dokumenter yang rilis bulan lalu, Steve Jobs: The Man in the Machine membuat film Steve Jobs 'hambar'. Film dokumenter ini pun dibesut sutradara kawakan Alex Gibney. Berbeda dengan biopic Zukckerberg, The Social Network. Karena banyak orang belum tahu si jenius dibalik mogul sosmed Facebook. Dan juga kehidupan yang tertutup bagi pemuda yang ironisnya disebut jagonya sosmed, Zuckerberg.

Ketiga, waktu rilis Steve Jobs yang kurang tepat. Memasuki musim Helloween tentu banyak orang akan lebih memilih film bernuansa horor dan thriller. Lihat saja sequel ke 5 Paranormal Activity, yang berada diatas film Steve JobsParanormal Activity: The Ghost Dimension sendiri berada tepat di posisi 6 dengan laba pekan rilis USD 8.2 juta. Lalu diikuti Hotel Transylvania 2 dengan laba USD 9 juta di posisi 5. The Last Witch Hunter yang dibintangi Vin Diesel berada di posisi 4 dengan laba pekan rilis USD 10,2 juta. 

Sedang Goosebumps, berada tepat di posisi 2 Box Office dengan laba pekan rilis USD 15,5 juta. Berada di puncak Box Office minggu ini adalah The Martian dengan laba pekan rilis mencapai USD 15.9 juta. Minggu Helloween tentu banyak penonton bioskop akan memilih film yang sesuai nuansa. Baik horor dewasa seperti Paranormal Activity: The Ghost Dimension, atau horor animasi keluarga Hotel Transylvania 2, dan horor fiksi, The Last Witch Hunter dan Goosebumps menjadi pilihan akhir Oktober tahun ini.

Paranormal Activity: Ghost Dimension cover - foto: blastr.com

Jadi, kualitas tokoh yang di-biopic-kan tidak selamanya menjamin sukses di Hollywood. Rumah produksi besar seperti Sony Pictures nampaknya belum bisa belajar dari film soal Steve Jobs terdahulu. Walau drama biopic seperti Steve Jobs memiliki long-lasting legacy, karena menggambarkan tokoh besar, namun tidak saat meraup untung. The Social Network melambung labanya karena Zuckerberg adalah introvert perakit sosial media yang belum banyak diketahui orang. Ditambah, waktu rilis Steve Jobs yang kurang pas, membuat 'derita' Sony Pictures bertambah. 

Berita: engadget.com | ign.com | variety.com

Salam,

Solo, 09 Maret 2016

11:00 am
(Reblog dari Kompasiana disini)

Monday, March 7, 2016

Piala Oscar 2016: Supremasi Kulit Putih, Penantian DiCaprio dan Kita

Piala Oscar 2016: Supremasi Kulit Putih, Penantian DiCaprio dan Kita

#OscarSoWhite - ilustrasi: theoscarbuzz.blogspot.com
Jauh sebelum Oscar 2016 dihelat, pada saat nominasi diumumkan isu rasisme berhembus. Banyak artis Hollywood melihat ketimpangan jumlah nominee yag berasal dari mereka yang colored-skin. Dominasi ras Kaukasus menjadi kentara. Banyak artis yang mencoba memboikot Oscar. Artis Hollywood bereaksi. Digawangi Jada Pinkett Smith (istri Will Smith) dan seorang aktifis kemanusiaan Al-Sharpton, pemboikotan Oscar dibuat. Beberapa nominee Oscar pun sadar hal ini. Brie Larson (The Room) dan Mark Ruffalo (Spotlight) pun turut serta dalam pemboikotan. Walau kedua orang ini nyata hadir saat perhelatan Oscar.

Kontroversi rasisme Oscar pun berlanjut saat acara tersebut berlangsung. Setelah jagad netizen memberikan tagar #OscarSoWhite, pada hari-H Chris Rock pun secara frontal (tapi nyleneh) menyinggung hal ini. Sebagai host Oscar pada malam itu, Chris Rock langsung menohok. Ia membuka dengan berucap "I'm here at the Academy Awards. Otherwise known as White People Choice Awards." Bukan cuma pembukaan yang cetar. Chris Rock pun menambahkan "You're damn right Hollywood's racist, but not the racist that you've grown accustomed to. Hollywood is sorority racist. It's like, 'We like you, Rhonda, but you're not a Kappa.' Banyak artis bertepuk tangan. Bagi mereka yang menjadi 'korban' dalam ucapan Chris Rock mungkin mendukung. Tapi entah bagi mereka yang mungkin 'rasis'.

Gurita Rasisme Hollywood yang Telah Menjadi Kraken

Apa yang terjadi? Mengapa jurang rasial sangat besar di piala Oscar? 

Dari sebuah studi yang dilakukan Los Angeles Times di tahun 2012 badan Oscar sendiri, The Academy of Motion Pictures, terdiri dari 94% orang kulit putih dan 77% pria. Walau secara psikologis pilihan atas kulit putih oleh badan ini masih tentatif, namun nominee dari Oscar tiap tahun terulang. Dari 20 nominasi Oscar 2016, 20 diantaranya ditujukan untuk aktor dan aktri kulit putih. Walau nominasi Golden Globe untuk Afro-American sebenarnya tidak kalah menarik. Contohnya Idris Elba (Beasts of No Nation) dan Will Smith (Concussion), namun mereka tidak sama sekali dinominasikan.

Permasalahan pelik rasial di Oscar sebenarnya lebih holistik. Menurut Whoopi Goldberg, rasisme di Hollywood terjadi dalam sistem perfilmannya sendiri. Pada wawancara Entertainment Tonight, Goldberg mengajukan pertanyaan "How many black films are being produced each year? How are they being distributed?" Menyadur pertanyaan Goldberg, Viola Davis mengutarakan hal yang serupa. Menurutnya, Oscar bukan menjadi masalah peliknya. Oscar hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar. Dan sekarang adalah kesempatan untuk membuat pernyataan. Sebuah perubahan sosial tambahnya.

Leonard DiCaprio Oscar Meme - ilustrasi: randomoverload.org

Namun nampaknya isu ini tertutupi euforia kemenangan Leonardo DiCaprio.

Setelah menunggu 2 dasawarsa lebih, DiCaprio (The Revenant) akhirnya membopong Oscar pertamanya. Dinominasikan sebagai Best Actors, ternyata impiannya menjadi kenyataan. Dunia pun bergempita. Meme yang dulu mengolok-olok DiCaprio akhirnya mencapai ejakulasinya. DiCaprio akhirnya mendapat 1 piala Oscar. Filmnya yang dibintanginnya pun menyabet gelar bergengsi untuk The Best Director. Nampaknya DiCaprio benar-benar bisa berbangga hati.

Dunia netizen pun gempar. Tagar #LeonardoDiCaprio plus #Oscar pun menjadi trending. Meme DiCaprio memegang Oscar pun diimbuhi beragam caption. Mulai dari ucapan selamat sampai (kembali) nyinyir atas terpilihnya DiCaprio sebagai aktor, ditulis dalam meme. Media dalam dan luar negri pun memberitakan kemenangan DiCaprio dengan 'lebay'. Tak lupa acara gosip di negri kita pun turut rembug kelebayannya memberitakan hal ini. Dan jarang yang benar-benar mengkritisi isu rasisme dibalik Oscar itu sendiri.

Rasisme Oscar dan Kita Orang Indonesia

Sepertinya karena orang Indonesia sudah biasa melihat film bule, yang menang kaum Kaukasus adalah wajar. Jika yang menang orang Afro-American, ya cukup selamat saja. Tidak begitu ngeh kontroversi dibaliknya. Pun, banyak yang merasa rasisme di Amerika Serikat tidak berpengaruh banyak ke Indonesia. Tapi tahukah kita, bahwa superioritas kaum Kaukasus dalam film menjadi racun dalam kepala orang Indonesia. Karena film Hollywood begitu wah, hebat, high-tech dengan aktor-aktris 'sempurna', bawah sadar kita begitu teracuni superioritas ras Kaukasus.

Buktinya, lihat saja betapa senang orang kita berfoto dengan 'bule'. Kalau sudah berambut pirang, kulit pucat, dan berbahasa asing, pokoknya minta untuk berfoto bareng. Betapa bangga dan pongahnya orang kita seusai berfoto dengan si bule. Disebarlah di sosial media mereka. Walau entah siapa bule tadi. Artiskah? Atau wisatawan biasa? Kalau sudah berfoto dengan bule ada 'kebanggaan' tersendiri. Beda rasanya jika berfoto dengan orang asing yang colored skin.

Inilah superioritas yang begitu subliminal merasuk dalam fikiran kita. USA sebagai negara adikuasa tidak sekadar omong kosong. Dari semua segi, USA memanfaatkan citranya. Dengan film pun demikian. Dengan film yang sulit disaingi negri sendiri, Hollywood menjadi silent weapon khusus. Terutama negara ketiga seperti kita. Supremasi ras tertentu yang dibalut apik dengan hiburan dan bisnis nampaknya tidak terasa. Apalagi isu rasisme didalamnya.

Referensicnn.com | time.com | theguardian.com

Salam,

Solo, 07 Maret 2016

12:54 am
(Reblog dari Kompasiana disini)

Saturday, February 27, 2016

Kenapa Deadpool Unik dan Berbeda?

Kenapa Deadpool Unik dan Berbeda?

Deadpool Poster - ilustrasi: screenrant.com

Mungkin banyak orang akan merasa perut diaduk-aduk saat melihat film Deadpool. Superhero besutan Marvel ini memang sebuah anomali. Saat superhero lain bertindak ksatria dan welas asih, tidak dengan Deadpool. Bak psikopat ia membantai musuhnya tanpa belas kasih. Bahkan di scene terakhir, saat musuh besarnya sudah tidak berdaya, ia masih menembaknya tepat di kepala. Bahkan beberapa scene mempertontonkan dengan jelas kepala terpotong, kaki dan tangan patah, dsb. Bagi sebagian orang yang biasa melihat X-Men atau The Avengers, scene gore (berdarah-darah) dan sadis ini tidak akan pernah ada. Namun, di film Deadpool, hal ini begitu diumbar dan begitu menggembirakan buat si superhero.

Sebenarnya, film superhero yang rada sadis dan penuh darah pernah ada sebelumnya. Misalnya film The Crow (1994) yang menggambarkan seorang musisi yang hidup kembali guna membalas dendam. Eric Draven yang diperankan Brandon Lee bangkit dari kubur dan mulai membunuh orang-orang yang menghabisi tunangannya. Atau film Blade (1998) yang diperankan Wesley Snipes juga mengumbar adegan bunuh-membunuh. Blade atau Eric Brooks yang diperankannya mencoba membalas dendam kematian sang ibu. Lahir setengah vampir setengah manusia, Blade menghabisi nyawa semua vampir yang menghalanginya. Dan beberapa film lain yang mungkin tidak seheboh film Deadpool. 

Buat saya pribadi, Deadpool seperti 'oasis' di tengah film-film superhero lain. Saat superhero lain sangat klise, Deadpool menjadi deviasi. Saat X-Men menonjolkan kekuatan supernya, Deadpool menjadi manusia seutuhnya. Mayoritas film superhero memang berfokus pada kekuatan dan kebaikan versus kejahatan. Atau yang sedang trending, semakin banyak uang maka kamu bisa jadi superhero. Lihat saja Batman atau Iron Man.

Deadpool menjadi gambaran jagoan yang menumpas kejahatan. Enaknya, tanpa perlu membela kepentingan orang lain. Ia hanya ingin membalas dendam Bukankah ini gambaran hidup kita? Membalaskan dendam seberat-beratnya, dengan kekuatan yang kita punya. Dengan geram ingin meninju orang yang menyebar fitnah soal kita. Atau memberi efek jera kepada maling sendal sampai babak belur. Atau membakar maling rumah kosong biar tidak ada maling lagi yang datang ke lingkungan kita. Apalagi ditambah kekuatan seperti Deadpool. Kekuatan yang bisa sembuh dari luka, penyakit, bahkan menumbuhkan kembali bagian tubuh yang terpotong.

"Superman Crying - ilustrasi: adventuresinpoortaste.com"
Tidak perlu menjadi superhero serupa Superman. Karena ia harus menolong setiap orang. Toh, tidak semua orang bisa ditolongnya. Bukankah sudah ada polisi menangani kejahatan. Atau serupa Thor yang harus menyelamatkan dunia. Betapa berat bebannya. Lihat saja di filmnya, gedung hancur lebur saat portal. Berapa banyak orang yang ikut meninggal dalam gedung itu? Atau para mutant dalam X-Men yang disingkirkan masyarakat karena aneh. Ironisnya mereka juga harus menyelamatkan orang-orang. Betapa manusia tidak bisa berfikir dan memosisikan diri menjadi seperti X-Men.

Kita adalah Deadpool dan Deadpool adalah kita. Sisi jahat manusia yang selama ini tertidur. Atau sisi jahat yang memang ada, namun banyak yang mencoba menyangkalnya. Betapa kita sebagai manusia ingin menjadi hebat. Menjadi superior di atas orang lain. Tidak ingin ditindas, dilukai, disakiti, dan dikucilkan. Ingin menjadi hebat dengan caranya sendiri. Plus kekuatan super serupa Deadpool membuat kita sanggup membalas dendam sendiri.
Masih sering kita lihat seorang ibu menangis di depan majlis hakim. Ia menyumpahi hakim yang memberi hukuman tidak setimpal pada pembunuh anaknya. Nyawa dibalas nyawa adalah mimpi di depan meja hijau. Atau kisah seorang bapak yang bertahun-tahun mencari keadilan atas kematian anaknya yang ditabrak mobil seorang jendral. Sudah terlalu jengah juga kita melihat ulah aparat yang tidak simpatik. Tebang pilih kasus dan ujung-ujungnya duit sering terjadi. Hukum sudah terlalu buta untuk bisa melihat sisi manusia. Hukum milik mereka yang berkuasa dan berduit.

Deadpool serupa katarsis kejengahan kehidupan. Dendam dan amarah yang setiap orang punya pada kejahatan dan ketidakadilan mewujud menjadi Deadpool. Sadis memang. Kejam begitulah adanya. Namun rimba hidup hanyalah penerapan tata cara battle of the fittest. Siapa yang kuat, menang. Deadpool adalah perwujudan inklandestin potensi kejahatan dan kekejaman manusia. Naif memang. Tapi jauh dalam lubuk hati setiap orang, selalu ada niat untuk membalas dendam dengan caranya. Tidak peduli hukum. Karena hukum lagi-lagi bukan menjadi parameter impasnya suatu kejahatan pada diri. 

Jadi, Deadpool memang menggambarkan kejamnya hukum rimba. Kekejamannya memang mungkin saja terjadi. Sadis memang sadis. Namun tidak sekejam mereka yang selalu mengumbar video potong kepala. Atas nama tuhan mereka membenarkan kekejaman yang terjadi. Atau atas nama golongan mereka meledakkan diri di tengah keramaian. Menjadi para martir yang penuh noda darah dan air mata orang-orang tidak berdosa. Atau pemerintah yang terus ingin menguasai minyak, hingga mengorbankan tentara dan warga jajahan. Semua demi memenuhi pundi-pundi ekonomi kaum elit dan pongah.

Salam,

Solo, 27 Februari 2016

10:46 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)