Monday, November 14, 2016

5 Alasan Mengapa Harus Gabung Kompasiana

5 Alasan Mengapa Harus Gabung Kompasiana

Ilustrasi. listhatcher.com
Tak terasa sudah 3 tahun lebih saya nangkring di Kompasiana. Dari mulai mondar-mandir jadi silent reader. Sampai ikutan teman jadi Kompasianer, sudah 600-an artikel saya buat. Dari verifikasi penulis hitam, hijau sampai biru sudah saya lalui. Dari syarat administrasi unggah KTP sampai bertemu wajah di kantor Kompasiana juga sudah pernah. Dari sekadar bersapa di kolom komentar, sampai ngobrol asyik di Nangkring juga sempat dilakukan. Betah juga saya di Kompasiana.

Lalu kenapa harus di Kompasiana? Saya pribadi punya blog sendiri. 

Pertama, karena Kompasiana 'besar'. Maksudnya secara literal dan implisit. Karena Kompasianer sampai saat ini mencapai ratusan ribu, artikel kita bisa banyak dibaca. Beda dengan follower blogspot saya. Apalagi termaktub eksplisit brand 'Kompas' di Kompasiana. Memang dulu Kompasiana hanya digunakan jurnalis internal Kompas. Namun mengubahnya menjadi situs publik memang mendatangkan hasil. Semua berkat kerja keras bung Pepih tentunya. 

Secara implisit pun Kompasiana besar gaungnya. Sudah banyak sumber berita portal berita mainstream memetik artikel di Kompasiana. Bertahan sampai tahun 2016 pun tentu menjadikan Kompasiana 'senior' di bidang citizen journalism. Sempat muncul artikel Kompasianer di Harian Kompas sebagai apresiasi admin dulu. Namun program ini hilang. Sempat pula ada KompasianaTV. Yang di mana saya pernah numpang eksis beberapa kali, pun hilang di awal tahun ini. 

Sebenarnya 2 program apresiasi Kompasiana tadi menjadi sebuah timbal-balik. Namun entah kenapa dihilangkan? Namun apresiasi tinggi Kompasiana dalam bentuk Kompasianival pun sangat membanggakan. Bagi para calon penerima award Kompasianival tentu menyenangkan. Menjadi sebuah point penting dalam portofolio hidup. 

Pun bisa menjadi cerita membanggakan tersendiri jika bisa dianugrahi salah satu award-nya. Kebetulan saya belum? #BukanPromosi :-)

Kedua, karena Kompasiana adalah media belajar menulis yang berkesan. Baik menulis formal, non-formal dan informal semua bisa di sini. Tulisan serupa jurnal pun sering saya tulis. Apalagi untuk buat sebuah blog competition. Banyak referensi buku atau jurnal saya cantumkan. Tulisan non-formal seperti laporan Nangkring atau reportase suatu event atau tempat banyak pula dibuat. Atau sekadar curhat dengan bahasa sehari-hari juga ada. 

Berwarna, itulah model tulisan di Kompasiana. Walau ada juga tulisan copas atau hoax, admin sudah berusaha memfilter hal ini. Dengan model prosa atau puisi, banyak juga penulis hebat menjadi referensi saya menulis disini. Ada pejabat, penulis novel, akademisi, praktisi, diaspora, dll adalah rupa-rupa Kompasianer. Dan mungkin juga ada orang-orang besar yang mungkin 'bersembunyi' di akun anonimus Kompasiana. Dulu pernah heboh akun Gayus beredar di Kompasiana. #SudahDiPetiEs?

Komentar pedas, manis, asem atau pahit pernah saya terima di artikel saya. Dengan cara 
inilah saya 'dilatih' menjadi penulis. Tulislah artikel politik dengan judul yang mengundang decak kagum. Jangan heran hater/lovers akan segera nimbrung di artikel semacam ini. Dan kadang malah saya yang membuat artikel terkekeh sendiri melihat gontok-gontokan di kolom komentar. Tapi itulah dinamika aspirasi pro-kontra satu isu.
Sumber: www.quotesfrenzy.com
Ketiga, karena banyak blog competition di Kompasiana. Tak ayal hal ini pun mengundang banyak orang ingin bergabung di sini. Hadiahnya pun lumayan daripada menulis artikel di blog denganrate blogger yang standar. Nama-nama besar produsen produk dan jasa sudah pernah membuat blog competition. Dari pihak swasta maupun instansi pemerintah daerah dan pusat juga pernah memajang blog competition mereka. Hebat.

Sudah sering kali saya pun ikutan blog competition. Sayang seribu sayang, tidak pernah menang. #CurCol. Hadiah yang benar-benar pernah saya terima dulu adalah sebuah printer plus scanner. Saya sangat bersyukur sekali menjajal dan mereviewnya. Printer gratis dan 
hanya 'dibayar' 2 tulisan membuat saya sendiri heran. Kata-kata yang saya buat mewujud dalam bentuk printer

Keempat, karena Kompasiana dianggap referensi 'valid' karya ilmiah. Mungkin hal ini masih tentatif untuk parameter ilmiah. Namun artikel saya sendiri sudah hampir 4 kali dijadikan referensi karya ilmiah. Saya Google akun nama dan muncullah beberapa PDF anstrak dan konten lengkap karya ilmiah dari beberapa universitas di Indonesia yang mengutip artikel saya. Membanggakan tentunya. 

Artikel yang kita buat dianggap memiliki indikator 'berisi'. Dan wajar jika mahasiswa atau peneliti mengutip artikel kita. Dan dalam hal ini tentu harus ada link di mana artikel kita ditaut. Sebuah konvensi yang sama-sama menguntungkan. Walau ada juga artikel ilmiah yang salah mengutip nama saya menjadi Lukmato. #NggaApa2

Kelima, karena Kompasiana adalah keluarga Indonesia. Ini yang saya rasakan saat jauh dari tanah air. Dengan Kompasiana, muncul rasa memiliki tanah air air yang lebih banyak. Banyak tulisan Kompasianer di luar negri yang inspiratif. Artikel mereka memberikan analogi, saran, kritik untuk negri sendiri. Dan semua untuk membangun negri sendiri tentunya.

Dan kolom Kompasiana pun menjadi ajang 'silaturahim' Kompasianer. Tidak perlu formal-formal sekali dalam berkomentar. Namun juga harus menjaga etika yang biasanya kita lakukan saat mengobrol saja. Ada pula komentar lucu dan sarkas. Tapi itulah dinamika 'keluarga' Indonesia di Kompasiana. Kompasiana adalah gambaran kecil Indonesia.

Pada akhirnya, sungguh ingin saya hadir Kompasianival sekali waktu. Mungkin banyak penasaran wajah saya seperti apa? Mungkinkah ganteng atau menawan? #Halah. Ingin merasakan bangganya menjadi orang Indonesia di Kompasianival. Berjumpa dan bertegur sapa dengan Kompasianer dari segaa penjuru Indonesia dan dunia, mungkin. 

Dan tentunya ingin terus bersumbang tulisan untuk Indonesia. Walau sederhana atau malah berkesan sangat subjektif. Namun inilah perspektif saya sebagai anak bangsa untuk negerinya. 

Salam,

Wollongong, 14 November 2016

11:00 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)

Sunday, November 13, 2016

Ingat, Beasiswa Bukanlah Hadiah

Ingat, Beasiswa Bukanlah Hadiah

Ilustrasi. Shutterstock
'Beasiswa bukan hadiah.'
Sebuah frasa yang sejak saya menjadi awardee dari institusi pemerintah selalu saya camkan di dalam hati. Bukan coba membebani diri, namun memberi sedikit pengingat seiring saya menempuh studi di negara orang saat ini. 

Mungkin saja saya khilaf jika menganggap beasiswa adalah hadiah. Beasiswa adalah 'hak saya' karena saya pintar. Menjadi 'jatah' saya karena saya berprestasi. Atau merupakan 'hibah' buat saya yang mengabdi pada satu bidang setelah bertahun-tahun. Semoga saya dijauhkan dari berfikiran demikian.

Coba saya analogikan dengan orang-orang yang sekolah di luar negri dengan biaya sendiri. Biaya sendiri baik dari pribadi karena bekerja atau dana berasal dari orangtua. Sifat sentripetal dihasilkan dari sekolah biaya sendiri. 

Maksudnya, tanggung jawab yang ada terfokus pada diri sendiri dan orangtua yang membiayai. Orangtua harus wajib tahu hasil tiap semester misalnya. Atau ada motivasi intrinsik untuk mendapat nilai diatas 80 demi mengejar karir di masa depan. 

Berbeda dengan sifat beasiswa yang sentrifugal. Beasiswa seperti ini saya pikir akan melibatkan dan mempengaruhi banyak orang. Beberapa pihak tersebut seperti:
  1. Pemerintah/institusi; Saya harus mempertanggung jawabkan hasil pra, whilst dan paska studi kepada pemerintah/institusi. Sebelum mendapat beasiswa ada seleksi ketat. Donor beasiswa tentu tidak akan memberi kepada sembarang awardee. Integritas menjadi salah satu poin penting yang diukur. Tentunya saat studi, hal akademis dan non-akademis menjadi tolok ukur integritas yang sudah diukur sebelumnya. Akhirnya, saat studi selesai impact apa yang awardee tersebut bisa dikontribusikan ke negara, institusi tempat bekerja, dan masyarakat secara luas. 
  2. Sekolah/institusi tempat belajar; Sekolah/institusi ini bisa di dalam dan luar negri. Sudah bisa pasti sekolah/institusi memiliki ekspektasi tinggi saat menerima awardee beasiswa. Mereka tahu awardee sudah diseleksi ketat oleh pemerintah/institusi donor beasiswa. Tentu 'standar' atau benchmark awardee juga. Intinya, awardee adalah orang-orang pintar dan berprestasi. Impact untuk sekolah/institusi yang menerima awardee seperti ini adalah prestasi riset/akademis/non-akademis juga tinggi. Bagi sekolah di luar negri bisa memberi mereka data/cultural awareness dari negara awardee. Dan secara ekonomis tentunya revenue. Soal data/riset soal negara awardee, pemegang beasiswa harus menjamin sensitifitas data/riset dijamin oleh pihak kampus. 
  3. Tempat bekerja/institusi profesi. Tentunya tidak semua awardee adalah fresh graduate. Pada program Ph.D, banyak awardee sudah berprofesi di PTN/PTS/BUMN/Swasta asing. Tentunya menerima beasiswa berdampak pula pada tempat mereka dan saya bekerja. Institusi ini berharap kita mendapat banyak hal yang bisa di-share dan diadaptasi di negara atau institusi sendiri. Tentunya hal yang positif dan membangun. Walau impact yang timbul tidak diharapkan spontan, namun indikasi kemajuan sejak awardee kembali bekerja tentu diharapkan. Percuma jika sesusai awardee kembali bekerja di institusinya kemudian membaur dan masuk ke dalam sistem yang lama. Tanpa ada kemajuan berarti dan nyata. Menurut saya pribadi, percuma saja studi jauh-jauh namun tidak ada impact atau sekadar indikasi kemajuan yang terjadi.
  4. Orangtua/keluarga awardee. Orangtua mana yang tidak bangga anaknya mendapat beasiswa? Dan serupa biaya dari orangtua, awardee wajib bertanggung jawab kepada orangtua atau keluarga. Mungkin tidak secara formal memberi laporan tiap semester, namun endurance/daya tahan dan kelulusan menjadi bukti. Saya sendiri harus bisa dan wajib menyesuaikan gaya belajar di tempat studi saya. Gaya belajar autonomous dan critical thinking dominan di negara Barat. Hal yang saya kira tidak semua PT di Indonesia yang menerapkan. Teacher-centered dan spoiled (manja) saya kira masih banyak terjadi, bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Dan lulus juga menjadi bukti kita berhasil. Karena banyak teman dan rekan bercerita kalau studi mereka tidak selesai. Dan banyak hambatan baik internal dan eksternal yang terjadi. Sangat disayangkan memang.
  5. Masyarakat pada umumnya. Baik orang yang saya kenal atau tidak. Jika mereka tahu saya penerima beasiswa mungkin ada pertanyaan terbersit dalam hati mereka. Apa yang sudah kamu berikan untuk negara/masyarakat? Kamu kan dibiayai negara kuliahnya? Ingin dan harapan saya hanya, sebelum mereka bertanya demikian sudah ada hal yang mungkin kecil bisa dirasakan orang banyak. Tidak perlu muluk-muluk riset untuk mengkoloni planet Mars misalnya. Namun bersumbangsih opini dan aspirasi di ranah profesinya sendiri mungkin menjadi indikasi awal kontribusi. Tentunya dalam diri setiap awardee, ada keinginan mereka untuk bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Sebuah klise yang orangtua kita ucap dulu saat ditanya cita-cita sejak SD. Yang saya kira menjadi doa terwujud saat ini dan nanti.
Tentunya, beasiswa bukan hadiah.

Dengan biaya hidup yang tinggi di negeri orang. Atau dalam konteks sekolah di negeri sendiri, kuliah tidak mengeluarkan biaya pribadi. Kadang terbersit betapa enak dan 'sejahteranya' awardee. Terus saya coba ingatkan diri, jika beasiswa bukan cuma-cuma diberikan pemerintah/institusi. Ada hal yang harus dibuktikan. Pihak donor beasiswa tentu berharap banyak pada awardee seperti saya. Apalagi jika menyangkut beasiswa negara.

Jika kuliah biaya sendiri bertanggung jawab ke ibu kandung. Maka kuliah berbeasiswa negara bertanggung jawab ke ibu pertiwi. Ke negara yang sudah mau menjaminkan investasi berupa biaya kuliah ke saya sebagai pribadi yang dianggap layak menerima beasiswa. Banyak pihak yang berharap pada saya. Beban yang ada ini bukan seharusnya menjadi hambatan. Namun tantangan yang harus saya jawab.

Sudahkah saya memberi sesuatu untuk negara? 

Salam,

Wollongong, 13 November 2016

09:00 am
(Reblog dari Kompasiana disini) 

Friday, November 11, 2016

Menyelami Tragedi 'Salah Kamar'

Menyelami Tragedi 'Salah Kamar'

Sumber ilustrasi: alluremedia.com.au
"Aduh, salah kamar!"
"Maaf salah kamar."
"Eh kok ke share di grup ini? Maaf"

Pernah Anda mengetik salah satu pesan diatas? Atau apapun yang Anda ketik ketika mengalami tragedi 'salah kamar'. Bukan makna sebenarnya 'kamar' secara fisik. Kamar di sini berarti grup, kanal, team, atau apapun di platform medsos kita. Grup yang berjejelan di WhatsApp misalnya. Atau deretan kanal di Telegram. Atau rentetan chat grup di FB Messenger. Atau apapun itu, mungkin sekali dua kali waktu pernah kita atau anggota grup sambangi dengan tragedi 'salah kamar'.

Dan menjadi fenomena mahfum di era gadget yang semakin personal seperti sekarang. Berinteraksi di platform chat lebih memberi sensasi buat kita. Dan tidak bisa dipungkiri bagi techno geek seperti saya, punya banyak grup memberi dunia saya lebih berwarna. Namun dalam beberapa hal juga memberi unsur 'ketidaknyamanan'. Baca artikel saya Bahagia Kekinian Dilegitimasi Media Sosial.

Oke kita kembali ke tragedi salah kamar. Mari kita longok sejenak apa sih yang sebenarnya meng-ignite salah share, pencet, atau select ini. Setidaknya ada tiga hal yang saya sudah berhasil tangkap. Hal-hal berikut bersifat tentatif. JIka ada hal yang lebih valid dan ilmiah, silahkan saja diberikan di kolom komentar. Dan saya merangkumnya ke dalam istilah Triple Over.

Over pertama adalah over number of groups. Jika sudah menginstal media sosial, minimal Facebook, akan banyak orang yang memasukkan kita ke grup buatannya. Lalu obrolan bersambut. Kadang grup juga bisa sepi. Dan akhirnya ada grup-grup gosip kecil juga dibuat. Lambat laun, grup akan semakin banyak. Dan saking banyaknya, kita akan lebih memilih grup yang lebih seru, serius, atau blak-blakan saja. Preferensi ini memang personal. Tapi banyak juga penyebabnya. Baca tulisan saya Inilah Hal-Hal Yang Membuat Grup Chat Ramai dan Kok Grup WA-ku Sepi?

Over kedua adalah over excited. Saat ada meme, berita, atau posting yang begitu seru, men-share bisa salah kamar. Karena kita begitu senang, marah atau bersemangat, sampai lupa harusnya dishare di grup 'The Gokilers', ternyata berakhir di grup tempat bekerja 'PT Angin Ditolak', misalnya. Betapa malu dan salting tentunya saat meme, berita, atau posting salah kamar. It's fine jika postingnya serius atau 'netral' dalam hal politis, agama, atau bahasa. Jika meme yang kadung di-share berkonotasi negatif, tentu kita langsung meminta maaf. Dan mau tidak mau, beberapa aplikasi tidak bisa me-retracted (menarik kembali) post yang sudah di-share.

Over ketiga adalah over gloomy. Ini masih terkait over kedua, namun berlawanan 
secara nature-nya. Saat kita begitu sedih, galau, dan kalut pikirannya, bisa pula kita ketik atau chat di kamar berbeda. Mungkin pula sudah 3 paragraf diketik saat sudah dipost, baru tahu curcolnya disebar di grup alumni. Inginnya curhat di grup "Rumahku Surganya" yang berisi 5 orang. Eh malah terlanjur di-post di grup "Alumni Kampus Biru Merona" berisi 250 orang. Perasaan akan beralih dari kalut menjadi sangat kalut. Walau mungkin ada anggota grup yang bersimpati, namun muka merah tidak bisa ditahan tentunya. 
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan untuk meminimalisasi 'salah kamar'? Ada beberapa hal yang bisa saya sarankan.
  1. Me-mute notifikasi beberapa grup/kanal/chat grup yang tidak 'begitu penting'. Beberapa platform sosmed bisa melakukan ini. Namun setting untuk durasi harus selalu kita cek,
  2. Melihat isi berita/meme/posting dengan teliti. Karena kadang yang men-share posting sendiri tidak membaca apa yang di-share. Alih-alih berbagi hikayat damai, malah jadi alamat ramai di grup,
  3. Bersabar dalam men-share posting. Ya, sering-seringlah lakukan cek-n-ricek sebelum berita/meme/posting copas disebar. Dalam hal ini mengontrol emosi dan perasaan. Karena dua over tadi bisa jadi mengurangi fokus kita #BukanKurangAqu*,
  4. Pastikan ada paket data/wifi/koneksi internet. Karena sudah pasti tidak bisa share/post segala hal tanpa kebutuhan dasar platform sosmed ini. #Hehehe
Semoga bermanfaat.

Salam,

Wollongong, 11 November 2016

11:28 pm 
(Reblog dari Kompasiana disini)

Wednesday, October 12, 2016

Frasa "Itu Karena" yang Selalu Dihilangkan di Iklan

Frasa "Itu Karena" yang Selalu Dihilangkan di Iklan

Thinker


Iklan televisi tidak menggunakan logika kausatif. Yang ditekankan adalah akibat, bukan sebab. Contohnya sederhana, hanya kita saja mungkin yang tidak ngeh selama ini. Contoh:

Iklan susu formula yang menggambarkan anaknya bernyanyi. Lalu orang-orang disekitarnya senang dan bertepuk tangan.
Akibat: si anak berani bernyanyi di hadapan umum
Sebab: nil 

Lalu tanpa dinyana dan dikira, ditayangkanlah merek susu formula. Dibahaslah pentingnya nutrisi bagi si kecil. Alih-alih menggambarkan sebab si anak berani bernyanyi. Yang ditekankan seolah-olah susu formulanya yang membuat demikian. Berani bernyanyi tidak hanya dikontribusi nutrisi saya kira. Peran ortu dan oran sekitar pada ranah psikologis dan afektif anak juga menjadi pendorong. 

Jadi, frase 'itu karena' tidak pernah disebutkan dalam iklan. Iklan kosmetik pun demikian. Si A itu cantik bukan karena A itu cantik. Tapi karena produk B, yang membuatnya demikian. Juga dengan iklan provider atau TV kabel pun sama tekniknya. Kalau mau komunikasi lancar bukan karena jaringan bagus. Itu karena ada biaya lagi yang harus ditambah. Iklannya wow, tapi kadang faktanya low.

Adapun dalih 'tapi karena' hilang dengan substitusi 'syarat dan ketentuan berlaku'. Biasanya di iklan cetak banyak dicetak dengan tanda asterik (*). Tanda ini kadang begitu kecil dibawah kata gratis/diskon/sale/promo, dll.

Kadang memang tanda (*) dilengkapi keterangan cukup panjang dan bertele-tele. Yang memang membuat orang yang membacanya malas. Di iklan kosmetik/perawatan tubuh, biasanya ada tulisan kecil di bawah layar. Yang bahkan TV 64 inchi tidak bisa membacanya. Selain samar, keterangan ini mungkin muncul seperseratus detik. 

Lalu apa yang menjadi fokus iklan selain produknya adalah feeling. Manusia adalah mahluk virtual. Akan mudah takjub dengan apa yang dilihat. Lalu dirasakan di dalam hati. Saat hati senang, keputusan yang cenderung impulsif dibuat. Keputusan ini biasanya didorong kegembiraan atau sensasi yang dilihat dan dirasa. Tidak heran visualitas iklan akan selalu menarik perhatian. Dalam durasi 15-30 detik kita dibuat terpesona, sedih, tertawa, terinspirasi, dll. Ada perasaan yang distimulasi. Bersamaan dengan ini mereka menyusupi pikir kita 'ini lho produk kami yang bisa bikin pesona, tawa, inspirasi, dll'. 

Tanpa sebab yang harus dilihat dan ditelaah; kenapa seorang model bisa cantik, anak bisa sehat, badan pria itu bisa atletis, orang-orang terlihat nikmati makan, dll. Iklan tidak perlu menunjukkan ini. Jika ditunjukkan bisa saja iklan malah jadi film dokumenter. Menjual produk dengan efektif dengan menyentuh sisi afektif adalah kunci. Sehingga keputusan atas dasar sensasi bisa dibuat.

Itu karena menjadi keputusan yang harus kita buat. Logika yang harus benar-benar disadur sebelum kita pergi tidur. Benar tidak anak saya berani bernyanyi karena susu formula? Kenapa Chelsea Islan yang sudah cantik harus didandani untuk iklan produk kosmetik? Apa benar para model pria ber-sixpack itu minum susu biar seperti itu? Apa benar ada jaringan 4G di daerah kaki gunung seperti desa saya?
Artikel lain dari saya:
  1. Tiga Elemen Pengecoh pada Iklan Produk Kosmetik
  2. Iklan-iklan Rokok yang Tayang Semaunya (Kembali)
  3. Menelanjangi Iklan LA Light Cari yang Kerja
Salam,

Wollongong, 12 Oktober 2016

03:32 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)

Tuesday, July 5, 2016

Yuuk Makan Siang

Yuuk Makan Siang

Konoha Lunchtime - ilustrasi: deviantart.net
Enak bukan, jika diajak makan siang. Diajak makan siang oleh sahabat misalnya. Waktu yang tepat buat berkeluh kesah soal pekerjaan, keluarga, atau urusan pribadi. Saat perut terisi makanan enak, baik masak sendiri atau membeli, mengobrol dengan teman sempurna rasanya. Ada saja aspirasi berupa saran untuk sahabat. Mungkin ada perilakunya yang samar-samar terdengar tidak enak dari orang lain. Diperbaiki dan kalau bisa diberi solusi adalah nilai seorang sahabat. Sambil terus menikmati makan siang.

Apalagi jika makan siang bersama orang terkasih. Bersama orang yang kita kasihi. Ingin rasanya lama-lama mengunyah ayam goreng dan nasi di mulut. Semakin lama semakin indah memandang sang kekasih. Saat lapar hilang, hatipun meremang berbunga mengobrol mesra. Betapa dunia itu indah. Ada makanan yang memberi nutrisi untuk badan ini. Ada sang kekasih yang memberi nutrisi hati. Momen yang ingin selalu diulang. Memberi semangat dan mimpi satu sama lain membangun apa yang menjadi keinginan bersama. Sambil terus menikmati makan siang.

Atau makan siang bersama anak dan istri. Menyempatkan waktu makan siang di rumah. Atau mencari rumah makan bersama keluarga di sela waktu istirahat. Sembari memandangi anak yang sudah kian besar. Dulu ia disuapi. Kini ia bisa makan sendiri. Betapa cepat melihatnya kini sudah kelas 5 SD. Memandangi istri yang selalu menemani sampai saat ini. Betapa berbeda rasa dan suasana saat ia masih menjadi pacar. Kemesraan makan siang bersama memasuki level yang lebih utuh. Mimpi bukan lagi berporos pada ayah-bunda. Kini mimpi bergerak sentrifugal pada anak. Dan semua dicapai bersama. Sambil terus menikmati makan siang.

Makan siang akan terus berulang. Dengan siapa, dimana dan di momen apapun makan siang menyiratkan satu visi. Makan siang membangun keakraban dan mimpi bersama. Ia adalah momen berharga di tengan pelik kejumudan aktifitas. Makan siang adalah oase fikiran dan hati. Dan dengan dijamu orang nomor 1 di negri ini, rasa dan suasana ini akan tetap sama. Tinggal bagaimana kita memberinya persepsi.

Salam,

Solo, 05 Juli 2016

12:00 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)

Sunday, July 3, 2016

Sepeda: Dulu, Kini dan Memori yang Menghiasinya

Sepeda: Dulu, Kini dan Memori yang Menghiasinya

Evolution of Bicycle - ilustrasi: pinterest.com
Tahukah Anda kalau sepeda pernah sempat dilarang peredarannya. Sebuah artikel di tahun 1880 di koran New York Times memberitakan sebuah tragedi sebuah sepeda. Pada berita 130 tahun lalu itu diberitakan bahwa sepeda membahayakan si pengguna. Sepeda yang bergerak tidak membahayakan. Namun saat sepeda berhenti yang justru berbahaya. Menurut berita ini, sepeda bisa melempark pengendaranya. Dan hal ini tidak akan terjadi dengan berkuda.

Sejak saat itu, sepeda dilarang digunakan. Namun pada tahun 1881 para pengguna sepeda berdemonstrasi di kota taman Central Park di New York. Mereka pun melayangkan keberatan pelarangan sepeda di depan majlis hakim. Namun pelarangan sepeda belum usai. Pada 9 April 1887 sepeda tetap menjadi sorotan negatif di kolom New York Times. Kematian seorang guru muda bernama Miss May Brewer kabarnya disebabkan penggunaan sepeda yang berlebihan. Bahkan di Chicago, seorang dokter militer menolak merekrut para pengendara sepeda di tahun 1889. 
Artikel Bicycle Tragedy di koran New York Times tanggal 11 Juni 1880
Walau dalam pada tahun 1887, badan legislatif New York menerbitkan aturan An Act in Relation to the Use of Bicycles and Tricycles, namun belum secara efektif menghilangkan stigma bahaya sepeda. Baru pada tahun 1890, seorang jaksa George B. Clementon membuat aturan bersepeda dalam The Road Right and  Liabilities of Wheelman. Aturan dalam buku ini yang lalu menjadi aturan tertulis bagi para pengendara di New York. Dan baru pada tahun 1968 dibawah Konvensi Vienna yang mengatur Road Traffic, menyatakan sepeda menjadi moda yang sah di jalan raya. Ditandatangani kurang lebih 150 negara, hak bersepeda pun menjadi satu dalam aturan negara yang bertanda tangan.

Sejarah Sepeda Menjadi Sejarah Manusia

Sejak jaman naik kuda, manusia selalu mencari cara untuk memudahkan berpindah tempat. Sepeda sendiri sudah mulai dirancang sekitar 200 tahun lalu. Pada tahun 1817 sampai 1819, Baron Karl von Drais di Jerman merancang velocipede. Prototipe velocipede atau draisine diklaim menjadi sepeda pertama yang dibuat. Dengan desain yang mirip dengan sepeda saat ini, perbedaan mencolok hanya pada cara mengendarainya. Velocipede dikendarai dengan cara dikayuh dengan kedua kaki. Rangka velocipede dibuat dengan kayu. Sedang untuk kedua ban dan bearing digunakan material besi.
Replika Velocipede Drais karya Laufmaschine - foto: coroflot.com
Dengan berat 22 kg, velocipede sulit dikendarai wanita dan anak-anak. Pada tahun 1818, seorang insinyur dari London, Denis membuat velocipede lebih ramping. Kerangkanya dibuat lebih meliuk dan elegan. Desain dari Denis juga sering disebut hobby-horse. Karena cara mengendarainya yang mirip mainan kuda-kudaan. Namun karena cara mengendarainya yang aneh juga berbahaya, velocipede dilarang di Eropa Barat dan Amerika Utara.

Namun, perkembangan sepeda tidak mandeg. Di era 1820an sampai 1850an, sepeda menjadi lebih variatif. Diciptakanlah sepeda roda tiga, bahkan roda empat. Semua bagian sepeda sudah terbuat dari material besi. Lengkap dengan pedal, gerigi rantai, dan kayuhan tangan. Namun banyak kekurangan dari cara manuver saat berkecepatan. Salah satu sepeda roda empat yang populer di tahun 1850an adalah milik Willard Sawyer dari Dover Inggris.

Ada beberapa desain sepeda pada masa ini yang luput dari popularitas. Salah satunya adalah sepeda rancangan Kirkpatrik MacMillan di tahun 1839. Sepeda yang ia buat didasarkan kerja lokomotif uap yang terkenal saat itu. Dengan pijakan yang bisa memutar roda, sepeda ini memiliki gerigi dan rantai yang dihubungkan dengan roda belakang. Desain sepeda yang juga kurang populer dikembangkan oleh Gavin Dalzell dari Lesmahagow sekitar tahun 1845. Rancangannya yang benar-benar mirip dengan sepeda modern masih tersimpan Glasgow Museum of Transport.
"Sepeda Gavin Dalzell dari tahun 1845 - foto: collections.glasgowmuseums.com
Booming sepeda baru terjadi di tahun 1860. Adalah kepada dua orang ini desain sepeda modern bisa hadir, Ernest Michaux dan Pierre Lallement. Desain velocipede yang telah ada disempurnakan oleh Lallement pada tahun 1862. Dengan ditambah pedal, gerigi dan rantai yang saling terhubung dengan roda depan dan jok dengan pegas, karya Lallement pun dipatenkan pada tahun di US pada tahun 1866. Sepeda Lallement pun dikomersilkan di US. Karena Lallement sebelumnya sudah pindah ke Connecticut di tahun 1865. Fitur baru pada sepeda ini juga ditambah seperti ban karet dan bearing roda.

Sedang Michaux yang membuat vélocipède à pédales dengan skala kecil juga mendapat pamor pada karyanya di Perancis. Digandeng dua pengusaha kaya Aimé dan Rene Olivér, sepeda Michaux pun menjadi tren di Perancis. Desain kerangka sepeda Michaux pun diperbaiki oleh Gabert, seorang mekanik di Lyon. Kerangka tunggal sepedanya kini berbentuk diagonal yang terbuat dari besi. Sepeda Michaux diproduksi masal dan akhirnya menjadi moda transportasi populer di kota dan desa di Perancis.

Sepeda high-wheel juga sempat terkenal di tahun 1870an. Sepeda yang cukup unik ini cukup berbahaya untuk dikendarai. Karena ban belakang yang cukup besar. Namun keuntungannya, sepeda ini mampu melaju dengan cepat. Sepeda yang juga dikenal sepeda penny-farthing ini, diciptakan oleh Eugéne Meyer seorang mekanik yang berasal dari Perancis. Salah satu varian high-wheel adalah Royal Salvo. Sebuah tri-cycle yang memiliki dua ban besar di kiri-kanan dengan ban kecil di depan sebagai kemudi. Varian high-wheel ini diciptakan oleh James Starley.
Replika High Wheel modern - foto: pinterest.com
Dan sejak saat itu, jalan-jalan di Eropa dan Amerika Utara disesaki sepeda. Desain yang benar-benar menjadi mirip dengan sepeda modern adalah milik C.M Linley dari perusahaan Linley and Briggs di tahun 1885. Pada model ini, sepeda sudah dilengkapi suspensi pada frame atau kerangka sepeda. Sepeda tersebut diberi nama Whippet. Namun model ini tidak lagi diproduksi setelah tahun 1888. Karena pada saat ini pula, bicycle craze (demam sepeda) terjadi. Dan banyak sekali desain yang dikeluarkan.

Saat Sepeda Menjadi Memori tak Urung Padam

Dan diabad 21, sepeda tetap menjadi kebutuhan komuter jarak jauh maupun dekat. Dari desa maupun kota, semua orang ingin bisa menaiki sepeda. Tidak ada larangan spesifik untuk mengendarai sepeda dimanapun. Sepeda menyentuh hampir semua lini kehidupan manusia. Mulai dari lini komersil untuk penjual koran keliling, sampai lini keluarga yang ingin bersantai dengan sepedanya, sepeda menjadi moda transportasi segala urusan. Sepeda menjadi sebuah ikon dari manusia itu sendiri. Manusia dengan sepedanya adalah hal yang tidak mungkin terpisahkan. Dari sejak kecil seorang anak membeli sepeda. Sampai ia besar dan membelikan anaknya sepeda, memori pada sepeda pun melekat.
Riding Bike - foto: sheknows.com
Saya pun yakin, Anda pun memiliki momen dengan sepeda yang dipunyai. Baik momen indah maupun tidak begitu mengenakkan, sepeda akan selalu menjadi ikon sebuah kenangan. Sepeda seolah tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan kita sebagai manusia. Ia ada dan nyata pada masanya. Namun ia juga nyata di dalam tiap hati dan fikiran kita. Sepeda membentuk momen yang tidak mungkin terlupakan. Baik momen yang diciptakan nanti. Berkeliling bersama sang kekasih dengan sepeda hari minggu nanti juga momen yang ditunggu. Karena saya yakin, momen indah pasangan ini akan tetap dikenang saat ada anak mereka yang ikut bersepeda bersama di tempat yang sama. 


Salam,

Solo, 3 Juli 2016

04:30 pm
(Reblog dari Kompasiana disini)